Hidup itu sederhana. Sesederhana air mengalir., yang mengikuti gaya gravitasi bumi, yang mengikuti suara dan alualam irama alam semesta. Air tidak pernah meminta persyaratan yang rumit untuk mengalir. Air hanya meminta satu syarat saja yaitu tempat yang lebih rendah. Karena kesederhanaannya itulah air memberikan manfaat yang tidak sederhana bagi kehidupan. Tidak hanya sederhana, air juga konsisten dengan kesederhanaannya. Seluruh makhluk alam raya mengenal air karena kesederhanaannya yang tidak berubah sepanjang masa. Lalu bagaimana dengan hidup kita saat ini ? kita begitu sibuk dan semakin sibuk saja. Tidak cukup satu hari itu lamanya 24 jam. Kita berkejaran dengan waktu. Semakin kita kejar hidup ini, seakan kita semakin tertinggal. Kita takut tidak kebagian rizki Tuhan. Seakan rizki Tuhan tinggal sedikit dan tidak cukup. Hidup pun menjadi begitu sulit dan rumit. Kita berkejaran, berdesakan, berebut, lalu berkelahi. Lalu apa yang menyebabkan hidup ini menjadi tidan sederhana lagi ? Tuhan telah menunjuk manusia sebagai wakilnya di bumi untuk mengatur dan mengelola bumi. Sebagai modal dasar di berilah kita karsa dan karsa. Dengan karsa, manusia mempunyai energi untuk bergerak. Tidak sembarangan bergerak, karena Tuhan melimpahkan sifatNYA lagi berupa rasa. Dengan rasa inilah, kehidupan manusia menjadi indah. Dengan karsa dan rasa ini diharapkan bumi ini dikelola
Seriuskah Kita Sholat ?
BNI syariah Balikpapan, 28 Maret 2013 Kenapa kita tidak bersegera bergegas mengambil air wudhu dan melakukan sholat setelah mendengar suara panggilan azan ? Bahkan kita merasa terganggu dengan panggilan azan ersebut ? Barangkali karena ketika sholat kita merasa tidak ketemu siapa siapa. Adegan sholat kita adalah hanya gerakan fisik semata. Tidak ada komunikasi dan dialog dengan Allah. Dari takbirotul Irham hingga salam rasanya hampa tanpa makna selain hanya merasa gugurnya sebuah kewajiban. Kalau toh kita merasa bertemu dengan Allah, tapi kita tidak merasa bertemu dengan Dzat Yang Maha Kuasa, Dzat Yang Maha Besar. Cing cai aja, kata anak sekarang. Banyak bukti bahwa saat kita sholat kita merasa tidak bertemu dengan Dzat Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Saat panggilan datang kita tidak bergegas memenuhi panggilan itu. Kita hanya menyediakan waktu sisa dan waktu akhir kita untuk bertemu dengan NYA. Kita tidak terlalu berpikir bagaimana penampilan kita saat menghadapNYA. Dengan kaos oblong pun, cukuplah. Dengan rambut acak-acakan tanpa disisir nggak apalah. Dengan baju lengan panjang yang disingsingkan juga OK OK saja. Dengan kas bergambar tengkorak pun kita berani. Dengan sarung atau mukena kumal yang 5 bulan tidak dicuci pun tidak merasa risih menghadap kepadaNYA. Belum lagi kualitas gerakan dan bacaan sholat
SUKA-SUKA ALLAH BAGI-BAGI RIZKI, KOK LU YANG SEWOT …
Inilah salah satu sikap yang menyebabkan kita tidak bisa menjadi orang yang berlimpah rizkinya. Karena dalam urusan kewenangan membagi rizki, kita ternyata orang yang paling suka memprotes kebijakan Allah SWT. Padahal urusan bagi-bagi rizki ini adalah hak prerogatifNYA. Makanya Allah tidak mau member rizki yang lebih kepada kita karena kita suka menginterupsi kekuasanNYA. Ya memang, kita tidak berteriak-teriak mendemo kewenangan Allah. Tapi mari kita selami hati kita lebih dalam. Ketika ada temen kita yang naik jabatan, apa yang pertama kali tersirat di dalam hati. Ada rasa iri bahkan dengki atas nikmat yang diperoleh temen kita tadi. Sekali lagi, memang ini tidak terucap tapi terbersit dengan sangat halus di hati kita. Ketika ada tetangga beli mobil baru, sekali lagi, selami hati yang paling dalam, lalu rasakan adanya rasa iri bahkan dengki atau dongkol atas nikmat yang diperoleh tetangga tadi. Rasa iri dan dengki tadi kita tujukan kepada orang yang memperoleh nikmat. Tapi pada hakekatnya kita sama saja memprotes kepada Yang Maha Memberi nikmat yaitu Allah SWT. Kita tidak setuju kebijakan pemberian rizki tadi kepada orang lain, kita ingin Allah SWT memberikan rizki kepada kita. Allah SWT tentu tidak suka dengan hambaNYA yang model beginian. Belum dikasih nikmat saja sudah protes, apa
Membuka Hijab
Hati yang sudah mengalir, mestinya sudah bisa membuka hijab. Sebuah dinding tebal nan gelap yang tersusun oleh dosa-dosa dan sikap-sikap tidak menerima kehendak Tuhan. Sikap itu bisa berupa sangak buruk, iri dengki, sombong dan banyak lagi sikap yang menyebabkan hati tidak bisa lagi mengalir. Hati yang dengan santun menikmati untaian takdir Illahi dengan sikap terbaiknya. Hijab itu bukan benda fisik yang mudah dirubuhkan dengan kekuatan tangan. Hijab itu berupa bangunan maya yang menutupi kesucian ruh manusia dengan jasad badaniyah manusia. Tiupan ruh yang ada di dalam diri manusia akan terus memancarkan nilai-nilai Illahi yang suci. Hijab yang tebal dan gelap telah menghalangi sinar suci itu menghiasi badan fisik, pikiran, kata, sikap dan perilaku kita.
Kudeta Yang Salah
Kudeta sering dikaitkan dengan pengambilalihan kekuasaan suatu pemerintahan yang sah. Kudeta dilakukan dengan berbagai macam alasan. Ada karena desakan rakyat yang menilai pemimpin negaranya sudah dzalim, tidak legitimated atau dianggap tidak mampu memimpin rakyatnya. Ada juga karena nafsu berkuasa sebagian elit yang kebelet pingin segera berkuasa dan tidak tahan menunggu pemilu. Ada juga yang kombinasi diantara keduanya. Kudeta negara mungkin tidak sering atau jarang terjadi. Namun ada kudeta yang terjadi setiap saat tanpa kita sadari. Yaitu kudeta terhadap wilayah kekuasaan Allah SWT. Kudeta ini tidak gegap gempita dan heroik. Kudeta ini terjadi di dalam hati kita masing-masing. Kalau ada yang menyebutkan bahwa manusia mempunyai peran 99 % terhadap hasil suatu usaha sedangkan Allah hanya 1 %. Inilah bentuk kudeta yang sering kita lakukan. Walaupun biasanya selalu kita ikuti pernyataan bahwa walaupun Allah hanya memiliki wilayah kekuasaan sebesar 1 %, tapi dikatakan bahwa Allah mempunyai hak veto. Kalau Allah bilang tidak, maka 99 % usaha manusia yang sudah diambang sukses,bisa gagal. Demikian juga sebaliknya, walalpun usaha manusia yang 99 % kelihatannya gagal, tapi kalau Allah yang hanya memiliki peran 1 % bilang “Ya”, maka terjadilah keberhasilan itu. Mari kita sedikit berhitung pembagian luas daerah kekuasaan dengan menjawab beberapa pertanyaan inti. Pertama,
Allah bisa !
Kala dirimu galau tentang apakah kamu bisa menyelesaikan tugas-tugas duniamu, katakan pada dirimu “ Mungkin aku tidak bisa, … Tapi Allah bisa !”. Saat dirimu punya mimpi yang sepertinya akal dan logikamu tidak bisa menggapainya, katakan pada dirimu “ Mimpiku memang luar biasa, mungkin aku tidak bisa mewujudkannya, … Tapi Allah bisa !”. Saat kejadian tidak sesuai apa yang kamu inginkan, katakan pada dirimu “ Ya keinginanku tidak tercapai … Pasti Allah punya rencana lain yang lebih baik !” Kita mengatakan tidak bisa karena kita mengukur kemampuan kita. Pola pikir seperti ini seolah-olah kita menafikan kkeberadaan, keMahaKuasaan Allah SWT. Kekuasan Allah kita bonsai dengan apa yang kita pikir kita mampu. Kalau kita pikir kita tidak mampu, berarti Allah juga tidak mampu. Kemahakayaan Allah kita batasi dengan kekayaan yang kita punya. Kalau kendaraan kita hanya motor butut, maka Kehendak Allah kita batasi paling – paling kita bisa beli motor bekas dan tidak bisa beli mobil.. Ke-Maha Murah-an Allah memberikan rizki kita batasi dengan slip gaji kita. Masa depan anak, kita batasai dengan ijazah sekolahnya. Dan banyak lagi batasan-batasan yang kita ciptakan sendiri. Batasan-batasan itu bisa jadi nampak nyata seperti fisik tubuh kita, namun lebih banyak lagi batasan itu hanya di alam
Ruang Kosong
Kesadaran yang utuh terhadap koneksitas dengan Allah setiap saat merupakan implementasi dari Firman Allah “ Bertaqwalah kamu dimana pun engkau berada”. Dimulai dari kesadaran bahwa tubuh fisik ini adalah karunia dari Allah. Kita tidak pernah memesan tubuh ini sebelum lahir dan sampai sekarang tidak ada satu pun manusia yang mampu membuat bagian dari tubuh manusia. Yang berikutnya adalah kesadaran takdir Tuhanyang selalu berlaku di setiap detik umur kita. Tidak ada detik yang berlalu tanpa ketetapan takdir Tuhan. Kesadaran berikutnya adalah bahwa kemampuan bergerak, mendengar, melihat, berbicara, berpikir adalah juga atas daya yang dialirkan Allah ke dalam tubuh kita. Melalui perpaduan otot dan tulang, Allah mengalirkan dayaNYA sehingga tubuh kita bergerak. Melalui perangkat lunak di otak, Allah mengalirkan kemampuan berpikirNYA kepada manusia. Dan bahkan melalui Ke Maha BerkehendakNYA, Allah mengalirkan kehendakNYA melalui hati manusia. Sebuah konsep fatalistik kehidupan ? Kalau semua ide dan gerak di setiap detik merupakan kehendak Allah SWT, lalu dimana peran manusia dalam hidup ini ? Memilih ! Ya itulah yang akan dimintai pertanggungan jawab di akhrat kelak. Kecewa, marah dan tersinggung adalah bentuk perasaan yang disebabkan oleh munculnya sang aku dalam hidup kita. Diri kita tidak lagi kosong. Muncul banyak “aku” dalam diri kita. Kita marah karena”aku”
Tahun Baru – Resolusi Baru
2011 sudah berganti angka menjadi 2012. Untuk mengubah angka itu ratusan ton kembang api telah dibakar di seluruh dunia. Trilyunan uang telah dikeluarkan dalam semalam untuk menyelenggarakan dan membeli tiket event panggung hiburan pergantian akhir tahun. . Mari kita berhitung ; ” Dalam malam pergantian tahun nanti, berapa ribu keperawanan perempuan akan dinodai, berapa juta liter minuman keras akan ditenggak, berapa kilogram narkoba akan dikonsumsi ? “.Dunia makin tua, makin riuh dengan hingar bingar hiburan para pemuja setan. Tapi sudahlah, itu mungkin diluar kemampuan kita. Yang penting mari kita jaga diri kita dan keluarga kita. Hingar bingar di luar sana justru mengokohkan keyakinan bahwa memang kebenaran itu semakin nyata. Yang hak dan yang bathil sudah sangat jelas. Kita berlindung kepada Allah SWT dari nafsu yang mengajak kita memasuki wilayah abu-abu yang maunya ingin masuk surga tapi masih suka jingkrak-jingkrak bersama penganut setan. Mari kita jadikan hingar-bingar tahun baru sebagai dentuman gong kehidupan, tahun 2012 kita mau apa ? Tanyakan resolusi baru di tahun baru kepada kebeningan hati kita masing-masing. Di sana ada bisikan kebenaran, yang merintih karena kita lupakan. Teologi ketauhidan saat kita ada di alam barzah itu masih ada di hati yang paling dalam sampai saat ini. Bersihkan hati,
Kepada Siapa Kekuasaan Tuhan Kamu Berikan ?
Allah SWT itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Itu sudah jelas. Persoalannya adalah apakah kita sudah mendudukkan dengan benar bahwa memang Allahlah yang menguasi kehidupan kita ? Rasanya belum. Buktinya ? Coba teliti, di saat kita takut atau cemas, apa dan siapa yang membuat kita takut dan cemas ? Di saat kita berharap, kepada siapa kita berharap ? Lebih detail lagi ; di saat kita sakit, kepada apa atau siapa kita berharap kesembuhan ? Di saat sakit kepala, maka secara spontan kita berpikir, ah nggak masalah, beli obat sakit kepala di warung lalu diminum dan tidak lama sakit kepala itu akan hilang. Atau kita pergi ke dokter langganan kita, lalu kita berpikir, ah nggak masalah, dating saja ke dokter , di suntik, dikasih resep, beli obat, diminum , sakitnya akan sembuh. Begitulah kita, Untuk kesembuhan, kekuasaan menyembuhkan kita sematkan kepada obat atau dokter. Untuk urusan rizki yang banyak kita sematkan kepada pekerjaan, untuk kelulusan kita sematkan kekuasaan kepada dosen, untuk masa depan yang cerah kita sematkan kekuasan memberikan masa depan yang cerah kepada lembaga pendidikan yang terkenal, untuk naik pangkat kita sematkan kekuasaan menaikkan pangkat kepada pejabat/atasan. Mungkin kita masih menolak klaim penyematan kekuasaan di atas. Kita bilang ; ya
Menyongsong berkah di tengah badai
Saat kita menunggu moment-moment kesuksesan, hati terasa penuh bunga, bangga dan seolah dunia dan seisinya tersenyum kepada kita. Hidup terasa ringan dan semua menjadi mudah.Misalnya saat kita memenangkan pertandingan olah raga lalu kita menunggu momen pembagian piala kejuaraan, saat istri hamil lalu kita menunggu saat-saat kelahiran anak tercinta, saat bujangan sudah mendapatkan jodoh dan menunggu hari pernikahannya, saat pebisnis melihat angka-angka target sudah melampai target sebelum akhir tahun lalu menunggu pemberian reward dari pemilik modal atas pencapain targetnya. Saat-saat itulah hari-hari dipenuhi optimisme dan kegairahan hidup yang meluap-luap. Di kesempatan lain, ada kondisi dimana kita sedang menunggu datangnya badai kehidupan. Hidup seolah terasa lama dan menyakitkan. Misalnya saat seorang pejabat yang disangka korupsi lalu dia menunggu keputusan pengadilan, saat seorang murid yang merasa tidak bisa mengerjakan soal ujian lalu dia menunggu pengumuman hasil ujian, saat seorang direksi perusahaan atau pimpinan cabang yang angka-angka bisnisnya masih jauh dari target lalu menunggu business review dan keputusan pemilik modal terhadap penilaian kinerjanya. Begitulah sepenggal ritme kehidupan. Ada saat-saat kita membayangkan bertaburnya bunga-bunga kehidupan semerbak mewangi. Di kesempatan lain, ada saat kita bergetar menunggu datangnya mendung dan badai kehidupan. Sebenarnya bunga itu belum bertaburan dan badai itu belum datang. Tapi hati ini sudah dipenuhi


