2011 sudah berganti angka menjadi 2012. Untuk mengubah angka itu ratusan ton kembang api telah dibakar di seluruh dunia. Trilyunan uang telah dikeluarkan dalam semalam untuk menyelenggarakan dan membeli tiket event panggung hiburan pergantian akhir tahun. . Mari kita berhitung ; ” Dalam malam pergantian tahun nanti, berapa ribu keperawanan perempuan akan dinodai, berapa juta liter minuman keras akan ditenggak, berapa kilogram narkoba akan dikonsumsi ? “.Dunia makin tua, makin riuh dengan hingar bingar hiburan para pemuja setan.
Tapi sudahlah, itu mungkin diluar kemampuan kita. Yang penting mari kita jaga diri kita dan keluarga kita. Hingar bingar di luar sana justru mengokohkan keyakinan bahwa memang kebenaran itu semakin nyata. Yang hak dan yang bathil sudah sangat jelas. Kita berlindung kepada Allah SWT dari nafsu yang mengajak kita memasuki wilayah abu-abu yang maunya ingin masuk surga tapi masih suka jingkrak-jingkrak bersama penganut setan.
Mari kita jadikan hingar-bingar tahun baru sebagai dentuman gong kehidupan, tahun 2012 kita mau apa ? Tanyakan resolusi baru di tahun baru kepada kebeningan hati kita masing-masing. Di sana ada bisikan kebenaran, yang merintih karena kita lupakan. Teologi ketauhidan saat kita ada di alam barzah itu masih ada di hati yang paling dalam sampai saat ini. Bersihkan hati, lalu cari tempat dan waktu yang hening untuk mendengarkannya. Di keheningan malam, saat dahi kesombongan ini bertemu dengan sajadah. Lepas baju kebesaran dan topeng-topeng kehidupan. Lalu bayangkan, tahun depan kita sudah mati. Dan ternyata kehidupan tetap berjalan baik-baik saja tanpa kehadiran kita. Kecemasan dan kekhawatiran yang kita bayangkan sebelumnya ternyata tidak terjadi. Kenyataan yang kita hadapi justru, kita lupa membawa bekal untuk mati, Kita lupa mensyukuri nikmat-nikmat kehidupan yang bertabur dari detik demi detik selama kita masih hidup. Kita capek menyesali yang sudah terjadi dan cemas dengan apa yang belum terjadi dan melupakan nikmat kehidupan yang berlimpah.
So … Resolusi tahun 2012 adalah hati yang lebih jernih hingga mampu melihat taburan nikmat Allah lalu pandai mensyukurinya. Karena dengan itulah, nikmat yang lebih besar akan dilimpahkan. Interaksi kehidupan berkeluarga, bermasyarakat maupun bersinergi dalam perusahaan adalah wadah untuk mewujudkan nilai syukur. Persoalan kehidupan di keluarga, perusahaan maupun masyarakat adalah sebuah keniscayaan. Tidak perlu merasa dunia akan kiamat hanya oleh tidak tercapainya keinginan duniawi. Prestasi 2011 pun tidak perlu disikapi dengan berlebihan dalam merayakannya. Ambil sikap yang terbaik, lalu kita gunakan untuk menyongsong nikmat 2012 yang lebih besar lagi. Semoga.


