Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Inilah salah satu sikap yang menyebabkan kita tidak bisa menjadi orang yang berlimpah rizkinya. Karena dalam urusan kewenangan membagi rizki, kita ternyata orang yang paling suka memprotes kebijakan Allah SWT. Padahal urusan bag...
Hidup Itu Sederhana
Hidup Itu Sederhana
Hidup itu sederhana. Sesederhana air mengalir., yang mengikuti gaya gravitasi bumi, yang mengikuti suara dan alualam irama alam semesta. Air tidak pernah meminta persyaratan yang rumit untuk mengalir. Air hanya meminta satu syara...

Menyongsong berkah di tengah badai

Saat kita menunggu moment-moment kesuksesan, hati terasa penuh bunga, bangga dan seolah dunia dan seisinya tersenyum kepada kita. Hidup terasa ringan dan semua menjadi mudah.Misalnya saat kita memenangkan pertandingan olah raga lalu kita menunggu momen pembagian piala kejuaraan, saat istri hamil lalu kita menunggu saat-saat kelahiran anak tercinta, saat bujangan sudah mendapatkan jodoh dan menunggu hari pernikahannya, saat pebisnis melihat angka-angka target sudah melampai target sebelum akhir tahun lalu menunggu pemberian reward dari pemilik modal atas pencapain targetnya. Saat-saat itulah hari-hari dipenuhi optimisme dan kegairahan hidup yang meluap-luap.

Di kesempatan lain, ada kondisi dimana kita sedang menunggu datangnya badai kehidupan. Hidup seolah terasa lama dan menyakitkan. Misalnya saat seorang pejabat yang disangka korupsi lalu dia menunggu keputusan pengadilan, saat seorang murid yang merasa tidak bisa mengerjakan soal ujian lalu dia menunggu pengumuman hasil ujian, saat seorang direksi perusahaan atau pimpinan cabang yang angka-angka bisnisnya masih jauh dari target lalu menunggu business review dan keputusan pemilik modal terhadap penilaian kinerjanya.

Begitulah sepenggal ritme kehidupan. Ada saat-saat kita membayangkan bertaburnya bunga-bunga kehidupan semerbak mewangi. Di kesempatan lain, ada saat kita bergetar menunggu datangnya mendung dan badai kehidupan.

Sebenarnya bunga itu belum bertaburan dan badai itu belum datang. Tapi hati ini sudah dipenuhi dengan semerbak bunga atau badai kelam.  Kalau semerbak bunga mungkin  mudah bagi kita menerimanya, tapi kelamnya badai rasanya tidak banyak yang bisa menerima. Bagaimana menata hati agar bayang-bayang badai yang belum datang itu bisa diredam ? Atau malah mungkinkah kita melihat berkah di saat menunggu datangnya badai  ?

Sangka baik, adalah jurus pertama menghadapi badai yang belum tentu datang itu.  Kenapa kita mesti bersangka baik ? Karena Allah SWT adalah Tuhan kita yang Maha Pengasih dan Penyayang.  Badai yang akan datang itu hanyalah sebagai alarm yang terus mengingatkan kita akan tuntunanNYA.  Jadi Sang Maha Pengasih dan Penayang TIDAK MUNGKIN akan akan menyengsarakan umatNYA. Kalau Dia memberikan kita musibah maka PASTI tujuannya adalah untuk membaikkan kita.  Yang kedua, Allah SWT juga Maha Kuasa dan Maha Berkehendak. Yang membuat kita cemas adalah karena akal kita membatasi kekuasan Yang Maha Kuasa. Kita mengkerdilkan KekuasanNYA. Seolah badai yang itu pasti akan datang dan tidak mungkin dihentikan. Kita sok tahu bahwa badai itu pasti datang dan akan menyengsarakan kita. Kita takut dan cemas. Seolah Tuhan pun tidak berdaya menghentikan badai itu.

Mari kita sedikit berhitung, berapa kali kita sudah membayangkan badai hebat akan datang menerjang diri kita. Tapi dengan berlalunya waktu, badai itu hilang entah kemana.  Bayang-bayang kecemasan begitu mencekam, lalu tiba-tiba sirna begitu saja.  Seratus kali kita membayangkan badai akan akan datang, berapa kali badai kitu benar-benar datang ?

Kawan, kalau kita coba lebih rasakan secara mendalam, di saat-saat menunggu datangnya badai kehidupan itu, syetan sedang bernyanyi riang. Semakin besar bayangan badai yang akan datang semakin nyaring setan berdendang. Kalau kita berhasil diperdaya setan, rasakan saat itu keyakinan kita terhadap kemahakuasaan Allah SWT terasa hilang. Kita lebih percaya bayangan dan nyanyian setan dari pada kemahakuasaan Allah SWT.  Akal dan pikiran kita kita dibimbing setan lalu perilaku kita pun menyimpang dari tuntunanNYA.

Mari kita meregister berbagai jenis badai yang benar-benar menerpa kita. Lalu kita analisa apa manfaat setelah badai itu berlalu ?  Kita semakin dekat denganNYa ? kita semakin bijaksana ? Kita semakin pandai bersyukur ? Kita semakin menghargai orang lain ? Kita semakin sayang sama keluarga ? Kita semakin giat bekerja ? Kita semakin tabah dan kuat menghadapi kehidupan ? Kita semakin rendah hati ? Dan banyak sekali manfaat yang kita peroleh setelah badai benar-benar datang. setelah kita temukan begitu banyak manfaat setelah badai benar-benar datang, maka ketika kita mencemaskan datangnya badai, rasakan dan pilih manfaat-manfaat apa yang akan kita rasakan jika badai itu benar-benar datang. Kita siap menghadapi badai  sehebat apapun karena kita tahu manfaat dari datangnya badai tersebut.

Pepatah lama mengatakan bahwa pelaut ulung tidak muncul pada laut yang tenang, tapi dia akan muncul di laut yang penuh badai menghadang. Jadi siapkan kita menjadi pelaut yang ulung ??? Siap menyongsong berkah di tengah badai ….

About The Author

Nurfi Majidi

Leave a Reply