Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Inilah salah satu sikap yang menyebabkan kita tidak bisa menjadi orang yang berlimpah rizkinya. Karena dalam urusan kewenangan membagi rizki, kita ternyata orang yang paling suka memprotes kebijakan Allah SWT. Padahal urusan bag...
Hidup Itu Sederhana
Hidup Itu Sederhana
Hidup itu sederhana. Sesederhana air mengalir., yang mengikuti gaya gravitasi bumi, yang mengikuti suara dan alualam irama alam semesta. Air tidak pernah meminta persyaratan yang rumit untuk mengalir. Air hanya meminta satu syara...

Kepada Siapa Kekuasaan Tuhan Kamu Berikan ?

Allah SWT itu Maha Kuasa atas segala sesuatu. Itu sudah jelas. Persoalannya adalah apakah kita sudah mendudukkan dengan benar bahwa memang Allahlah yang menguasi kehidupan kita ? Rasanya belum. Buktinya ? Coba teliti, di saat kita takut atau cemas, apa dan siapa yang membuat kita takut dan cemas ? Di saat kita berharap, kepada siapa kita berharap ? Lebih detail lagi ; di saat kita sakit, kepada apa atau siapa kita berharap  kesembuhan ?  Di saat sakit kepala, maka secara spontan kita berpikir, ah nggak masalah, beli obat sakit kepala di warung lalu diminum dan tidak lama sakit kepala itu akan hilang. Atau kita pergi ke dokter langganan kita, lalu kita berpikir, ah nggak masalah, dating saja ke dokter , di suntik, dikasih resep, beli obat, diminum , sakitnya akan sembuh.  Begitulah kita, Untuk kesembuhan, kekuasaan menyembuhkan kita sematkan kepada obat atau dokter.  Untuk urusan rizki yang banyak kita sematkan kepada pekerjaan, untuk kelulusan kita sematkan kekuasaan kepada dosen, untuk masa depan yang cerah kita sematkan kekuasan memberikan masa depan yang cerah kepada lembaga pendidikan yang terkenal, untuk naik pangkat kita sematkan kekuasaan menaikkan pangkat kepada pejabat/atasan.

Mungkin kita masih menolak klaim penyematan kekuasaan di atas. Kita bilang ; ya Yang Maha Menyembuhkan ya tetap Allah SWT, tapi kan perlu sebab. Tidak ujug-ujug sakit kepala sembuh tanpa minum obat atau disuntik dokter.  Tidak ujug-ujug kita naik pangkat tanpa dinilai atasan.  Rizki tidak ujug-ujug datang tanpa kita bekerja.

Inilah ranjau akidah ketuhanan kita.  Inilah tikungan setan yang sering membuat kita kepleset. Tikungan yang menyebabkan suara adzan bisa menjadi suara yang menjengkelkan di tengah kita sedang sibuk bekerja. Tikungan setan ini pula yang menyebabkan tangan kita begitu berat dan pelit untuk mengeluarkan uang sedekah dari dompet kita. Tikungan setan ini yang menyebabkan kewajiban sholat menjadi beban berat. Di sisi lain tikungan setan ini pula yang membuat kita lebih bergegas merespon panggilan atasan dari pada panggilan adzan. Tikungan setan ini juga yang menyebabkan kita begitu cemas ketika dimarahi atasan karena target bisnis yang tidak tercapai. Dan banyak lagi tikungan setan lainnya yang pada intinya kita menjadi abai terhadap perintah Tuhan dan lebih memberhatikan perintah selain tuhan.

Allah memang mentakdirkan setiap kejadian itu perlu sebab. Adanya sebab ini bukan untuk kepentingan Tuhan sendiri tapi untuk kepentingan manusia.  Allah menciptakan dunia ini penuh dengan keteraturan. Untuk apa ? Agar manusia dapat mempelajari dan memahami dan meyakini kekuasaan Tuhan. Allah melengkapi manusia dengan otak yang bisa digunakan untuk mempelajari keteraturan itu. Bagi tuhan sendiri, Dia tidak memerlukan sebab untuk terjadinya sebuah kejadian. BaginYA kun fayakun ! Tuhan sangat  tahu kalau setiap kejadian itu tanpa sebab maka manusia menjadi bingung dan akhirnya pasrah tanpa usaha untuk mendapatkan keinginannya.

Mari kita buang tikungan setan ini dan kita cabut mandate kekuasan kehidupan yang sudah terlanjur kita berikan kepada tikungan setan itu an kita kembalikan Kekuasan Tuhan kepada Tuhan Yang Maha Segalanya. Hanya kepadanya kita berharap. Dan hanya takut dan khawatir atas murkaNYA. Bukan kepada yang lain. (nm)

About The Author

Nurfi Majidi

Leave a Reply