SSebagai sebuah institusi bisnis, sebuah korporasi juga mempunyai hati. Disebutnya dalam berbagai tingkatan. Ada value yang diyakini, ada visi dan misi. Ketiga hal inilah yang menyusun hati sebuah korporasi. Seperti juga hati manusia, sifat baik dan buruk sebuah korporasi ditentukan oleh value yang diyakini serta visi dan misi yang ditetapkan.
Korporasi yang dibangun oleh para kapitalis mempunyai satu tujuan hidupnya yaitu profit. Seluruh keyakinan, visi dan misinya diabdikan untuk menyembah berhala yang bernama profit. Semua aktivitasnya didayagunakan untuk mengumpulkan profit yang sebesar-besarnya. Semakin besar profit yangdiraup, semakin tinggi nilai sahamnya. Dan begitu getolnya mengejar profit sampailah pada satu perilaku ; tujuan menghalalkan cara. Cara apapun ditempuh, yang penting profit tercapai.
Di dalam memberikan pelayanan kepada customernya, profit menjadi orientasinya. Sungguh kejam manusia karena telah membagi-bagi kelas manusia berdasarkan hasil dan memberikan perlakuan yang berbeda . Manusia membedakan pelayanan kepada si kaya dari si miskin. Memberikan pelayanan yang berbeda antara pejabat dan rakyat biasa. Di dunia bisnis, para pelaku pemburu profit membuat kelas-kelas konsumen dan memberikan pelayanan yang berbeda. Kelas yang mempunyai duit banyak mendapatkan pelayanan yang lebih dari yang mempunyai duit sedikit. Kelas yang menduduki jabatan yang lebih tinggi mendapatkan pelayanan yang lebih istimewa dibanding yang jabatannya rendah. Ujung-ujungnya satu, siapa kelas yang bisa memberikan profit yang lebih tinggi, itulah yang akan mendapatkan pelayanan yang lebih istimewa. Perburuan profit akhirnya menempatkan posisi kelas bawah menjadi termarjinalkan. Hal ini mendorong kelas bawah bermimpi untuk bisa menjadi kelas yang bisa mendapatkan pelayanan dan akses yang lebih. Yang tidak sabar akan menggunakan jalan pintas.
Okelah, kalau itu korporasi bentukan kaum kapitalis. Tapi perburuan profit juga menjadi panduan utama perusahaan-perusahaan yang mengusung nilai-nilai kitab suci sebagai perusahaan berbasis syariah. Hal ini bisa dimaklumi karena pemilik perusahaan adalah juga rombongan kapitalis yang pasti akan mengalirkan modalnya ke usaha-usaha yang memberikan profit yang lebih tinggi. Jadilah panji-panji suci itu dikibarkan hanya untuk membungkus karakter asli kapitalis yang menyembah tuhan bernama profit.
Kasihan yang nabi, yang ajarannya diperkosa untuk memuaskan nafsu serakah kapitalis. Ajaran-ajaran kitab suci yang disampaikan sang nabi hanya mewarnai wilayah-wilayah privat dari pelaku bisnis namun tidak untuk perusahaan mereka. Muhammad, sang nabi, pernah ditegur Tuhan karena silau melayani para pembesar Yahudi dan meremehkan sang fakir yang meminta diajari menjadi umatnya.
Semoga ini baru tahap awal saja. Kesalehan pribadi memang harus diperkuat terlebih dahulu untuk menjelma menjadi kesalehan korporasi. Saat ini kesalehan korporasi masih memiliki ruang yang sempit dalam rumah korporasi. Dia hanya di tempatkan di bilik bamboo yang bernama CSR yang dalam beberapa stadium masih sangat artificial karena hanya untuk memenuhi undang-undang atau hanya untuk memuaskan pihak lain agar tidak diprotes oleh lingkungan sekitarnya.
Insya Allah , sifat-sifat tuhan yang maha pengasih masih ada dalam manusia yang kapitalis apapun. Tiupan ruh Tuhan dalam diri manusia, tidak akan pernah mengelak bahwa ada suara-suara kebenaran dari Tuhan yang mengingatkan manusia di dalam setiap diri. Akan terus ada pergolakan dalam perjalanan hidup manusia. Inilah ujian yang harus dilewati manusia. Sudah jelas dan terang benderang jalan menuju sorga. Dan satu-satunya doa yang ada dalam ummul kitab, al fatihah adalah permohonan agar kita ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang telah diberi kenikmatan oleh tuhan, Dan bukan jalannya orang-orang yang sesat dan dimurkai. Pilihan sudah jelas di depan mata.
Lalu bagaimana seharusnya sebuah korporasi syariah berperilaku sebagai sebuah institusi yang mempunyai kesalehan ? Pertama, sebagai sebuah institusi bisnis, adalah sah jika profit menjadi ukuran keberhasilan. Namun dalam jangka panjang akan menjadi masalah jika profit adalah satu-satunya tujuan. Tujuan akan menghalalkan proses. Berbagai macam penipuan, intrik yang terjadinya penghalalan proses dalam rangka mencapai keuntungan profit. Kedua, keuntungan profit diyakini hanyalah sebagai bonus. Nabi kita mengatakan bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang membawa manfaat untuk orang lain. Kaidah ini tentunya tidak hanya berlaku secara individu saja namun pasti berlaku juga secara korporasi. Sebaik-baik korporasi adalah korporasi yang membawa banyak manfaat bagi masyarakatnya. Soal mendapatkan profit adalah urusan Tuhan. Adakan dan bisakan korporasi menjalankan resep ini ? Rasanya kok akan banyak menemui hambatan dalam implementasinya. Bukan karena formula ini tidak benar, namun mindset korporasi yang sudah sangat lekat dengan profit semata yang seringkali dalam rangka mencapai tujuannya itu mengabaikan kepentungan masyarakat banyak. Kepentingan masyarakat umum dianggap sebagai beban yang mengurangi besarnya profit.——


