Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Inilah salah satu sikap yang menyebabkan kita tidak bisa menjadi orang yang berlimpah rizkinya. Karena dalam urusan kewenangan membagi rizki, kita ternyata orang yang paling suka memprotes kebijakan Allah SWT. Padahal urusan bag...
Hidup Itu Sederhana
Hidup Itu Sederhana
Hidup itu sederhana. Sesederhana air mengalir., yang mengikuti gaya gravitasi bumi, yang mengikuti suara dan alualam irama alam semesta. Air tidak pernah meminta persyaratan yang rumit untuk mengalir. Air hanya meminta satu syara...

Bisnis Tanpa Target (1)

Bisnis tanpa target ? Bisnis apa itu ?  Memang ada ? Lha wong bisnis narkoba saja ada target …  Masak bisnis yg halal tanpa target.  Target telah menjadi nyawa dalam bisnis.  Bisnis tanpa target ibarat bepergian tanpa tujuan. Perjalanan menjadi tidak menarik, tidak bersemangat dan tidak focus.  Bahkan dalam satu kendaraan, bisa jadi penumpang yang satu ingin ke utara sedangkan penumpang yang lain ingin ke selatan.  Target menjadi pendorong pelaku bisnis untuk bergerak.  Semua penumpang sepakat untuk bergerak mencapai target. Target telah menjadi darah yang membasahi setiap aktivitas bisnis. Tanpa target, bisnis menjadi loyo dan tidak bergairah.

Namun di sisi lain target bisnis telah  juga menjelma menjadi monster yang menakutkan dari pada menyenangkan. Bahkan dalam kondisi tertentu target bisnis telah menjelma menjadi tuhan yang mengalahkan kekuasaan Tuhan Semesta Alam.

Bagi para pekerja yang digaji, maka target pun juga menakutkan, karena pencapaian target diartikan secara linier sebagai terbukanya kesempatan promosi.  Karena apresiasi pekerjaan lebih ditekankan pada pencapaian target-target angka. Kalau tidak tercapai target, maka yang adalah dalam benaknya adalah kemungkinan dimutasi atau  akan ketinggalan posisi dibanding rekan-rekan sejawatnya.

Dalam dunia bisnis, maka target diformulasikan dalam bentuk angka, baik angka pertumbuhan, angka neraca, market share, laba rugi atau angka rasio-rasio keuangan.  Ukuran-ukuran  angka financial ini telah disepakati sebagai tolok ukur keberhasilan seseorang dalam berkarya di dunia bisnis.

Menu makanan rutin setiap pagi adalah membaca angka neraca dan laba rugi. Menghitung pencapaian bisnis hari kemaren. JIka ada naikan bisnis, maka hati gembira dan jika ada penurunan bisnis, maka hati menjadi sedih. Jadi setiap pagi perasaan hati kita dipermainkan oleh angka-angka neraca dan laba rugi.  Tidak ada masalah, bahkan menjadi sebuah keharusan untuk berman-main dengan angka bagi seorang pebisnis.  Tapi semata-mata hanya bermain angka, akan menggiring hidup kita menjadi menyempit karena rizki dan nikmat Tuhan hanya dilihat dari naik turunyanya angka-angka bisnis.  Padahal rizki tidak hanya bisa dilihat dari angka. Terlalu naïf kalau kekayaan dan kekuasaanTuhan hanya diwakili oleh angka-angka saja.  Padahal angka bisnis adalah angka yng un limited. Artinya jika tercapai angka tertentu, maka target berikutnya adalah angka yang lebih besar lagi dan besar lagi. TIdak pernah adalah target bisnis dengan angka yang lebih rendah.  Disinilah dunia bisnis menjadi sirkuit perlombaan lari sprint yang tanpa garis finish.  Dan hanya akan berhenti ketika sang pelari sudah tidak berdaya.

Seorang pelari, pada saat berlari, tidak bisa merasakan kenikmatan karena impiannya berada di garis finis sementara tubuh fisiknya belum mencapai garis finis. Puncak kebahagiannya adalah ketika menyatunya antara fisik dan impian di garis finis.  Semua menjadi indah, apalagi kalau sang pelari menjadi juara. Akan sangat berbahaya kalau lomba lari itu tanpa garis finis, karena sang pelari tidak akan pernah merasakan kegembiraan.

Dunia bisnis adalah perlombanaan lari tanpa garis finis. Garis finis yang diciptakan adalah fatamorgana, karena begitu dia sampai ke garis finis tersbut, tiba-tiba garis itu seperti menjauh. Semakin cepat didekati, semakin cepat dia menjauh. Para bijak mengatakan “ berhentilah kamu, maka engkau akan sampai pada garis finis”.  Mari kita sejenak berhenti berlari agar garis finis itu tidak menjauh dari kita.

Dunia bisnis saat ini telah mengalami percepatan pertumbuhan yang luar biasa. Bisnis yang tumbuh biasa-biasa saja akan digilas oleh bisnis yang tumbuh lebih cepat dan lebih agresif. Sang pelaku bisnis harus terus bekerja lebih keras untuk menjalankan bisnisnya. Termasuk kematiannya pun mengalami percepatan. Penyakit jantung, darah tinggi, kanker otak telah menyertai pelaku bisnis di dalam mengejar target bisnisnya. Hidupnya berkejaran dengan angka-angka bisnis. Jantungnya dipompa makin keras, otaknya diputar makin cepat. Dan kematian menjemputnya juga lebih cepat.

Cepatnya denyut jantung dan tingginya tekanan darah biasanya diperlambat dan diturunkan  di tiap akhir minggu dengan liburan, pergi belanja, nonton film dan lain-lain. Untuk kemudian dipacu lagi di hari senin dan seterusnya. Begitulah kita berkejran dengan target. Pencapaian target yang tinggi akan mendapatkan apresiasi berupa target yang lebih tinggi lagi dan begitu seterusnya.

Garis finish target yang bersifat fatamorgana ini menjadikan kita seolah tidak bernah berhenti berlari. Kita tidak bisa lagi menikmati hidup saat ini dan disini. Secara fisik kita berada di sini dan saat ini, tapi pikiran dan impian kita ada di masa yang akan datang. Kondisi ini menyebabkan kita lupa untuk mengucapkan rasa syukur yang kita terima, karena rasa syukur akan mudah hadir jika kita bisa menikmati hidup di sini dan saat ini. Menikmati udara yang kita hirup, menikmati aliran darah yang masih bisa mengalir di setiap organ tubuh kita, menikmati pemandangan yang indah yang masih kita lihat dengan organ mata kita, menikmati celoteh anak-anak di rumah dan menikmati semua yang kita rasakan, kita lihat saat ini dan disini. Garis finis target yang fatamorgana hanya menciptakan kekhawatiran dan kecemasan karena target adanya di masa depan.  Kenikmatan mencapai target hanya dinikmati sesaat karena kemudian akan muncul target berikutnyua yang lebih besar lagi.  Kalau tidak dikelola dnegan hati-hati, tercapainya target seringkali tidak menghadirkan rasa syukur tapi memunculkan rasa sombong dan angkuh dan mengklaim bahwa tercapainya target adalah atas upaya kerasnya sendiri, tidak ada pihak lain yang berperan.

Target menjelma menjadi tuhan ? Ya … target telah menjadi begitu powerfull dan menjadikan kita lupa dan menghalalkan segala cara untuk mencapai target. Kasus-kasus rekayasa keuangan, bisnis fiktif, suap, bahkan penggunaan kekerasan dilakukan demi tercapainya target. Melanggar kaidah-kaidah yang sudah ditetapkan oelh Tuhan berupa kejujuran, dan suap.  Dalam aktivitas bisnis kita sehari-hari, sering kita uring-uringan ketika sedang melakukan meeting yang serius dengan nasabah kemudian terdengar suara adzan.  Atas nama target, panggilan tuhan dinomorduakan.

About The Author

Nurfi Majidi

Leave a Reply