Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Inilah salah satu sikap yang menyebabkan kita tidak bisa menjadi orang yang berlimpah rizkinya. Karena dalam urusan kewenangan membagi rizki, kita ternyata orang yang paling suka memprotes kebijakan Allah SWT. Padahal urusan bag...
Hidup Itu Sederhana
Hidup Itu Sederhana
Hidup itu sederhana. Sesederhana air mengalir., yang mengikuti gaya gravitasi bumi, yang mengikuti suara dan alualam irama alam semesta. Air tidak pernah meminta persyaratan yang rumit untuk mengalir. Air hanya meminta satu syara...

We Are Nothing

Aku harus bisa … !  kalau orang lain bisa, pasti aku juga bisa. Begitu banyak bombardier dalam pengembangan diri yang mengeplorasi kemampuan manusia.  Dan sungguh luar biasa potensi manusia. Bermuncullam lah berbagai macam prestasi.

Permasalahannya adalah ketika kita sudah bisa. Biasanya diikuti dengan klaim bahwa hasil yang diperoleh adalah karena kebisaan kita. Dan kebisaan kita karena kemampuan diri kita. Kita lupa siapa yang menetapkan kebisaan kita. Kita merasa lebih baik disbanding orang lain dan lalu meremehkan orang lain.

Perkembangan ilmu pengetahuan telah sampai pada suatu titik yang sangat jauh. Salah satunya dalam perkembangan ilmu fisika. Setelah sekian lama, alam makro dan mikro ini diamati, diteliti dan dianalisa dengan ilmu fisika yang serba terlihat dan terukur, muncul pengetahuan fisika baru yang mengamati benda-benda fisik apabila dibelah secara terus menerus.  Ilmu fisika yang disebut fisika kuantum ini menyebutka bahwa apabila sebuah benda fisik dibelah secara terus menerus sampai sekecil-kecilnya, hingga berukuran di bawah okuran atom, maka yang dijumpai adalah ruang kosong. DI ruang kosong itu tidak ada lagi benda fisik yang terlihat dan yang ada hanyalah energy vibrasi yang bergetar pada gelombang dengan frekuensi tertentu.

Demikian juga perjalanan ke dalam diri (inner journey). Semakin dalam kita berjalan ke dalam diri, semakin yakin bahwa we are nothing.  Di dalam kekosongan itulah, ditemukan kebahagiaan sejati. Semakin kita bisa mengosongkan hati, semakin terasa kebahagiaan itu ada di sana.  Hati yang kosong dari gemuruh keserakahan dan hiruk pikuk  keinginan (keinginan memiliki, keinginan dipuji dan dikagumi, keinginan dihormati, keinginan dihargai, dan banyak keinginan lainnya). Para ahli psikologi menyebutnya sebagai kondisi zero mind. Suatu kondisi …. Allah menyebutnya hati yang muthmainnah, hati yang tenang, yang ridhlo menerima ketetapan Allah dan Allah meridloinya.  Allah mempersilahkan hambaNYA yang berhati tenang ini untuk menjadi hambaNYA dan memasuki sorgaNYA.

Tujuh ayat dalam ummul kitab surat Al Fatihah seluruhnya mengajarkan kepada kita bahwa kita memang bukan apa-apa.  Tidak ada satu ayat pun yang menyatakan bahwa kita adalah apa-apa. Seluruh aktivitas hidup kita adalah karena kasih sayang Allah. Allah lah yang berhak atas segala pujian dan sanjungan, Allah yang berkuasa di hari akhir nanti, kepadaNYA lah kita menyembah dan minta pertolongan, hanya kepada Alllah kita minta petunjuk.

Ada beberapa pertanyaan barangkali yang bisa menegaskan kita ini bukan apa-apa. (1) BIsakan kita keluar dari siklus kefanaan fisik ; lahir, muda, dewasa lalu mati ? Secanggih ilmu kesehatan apapun rasanya tidak ada seorang pun yang mampu mempertahankan kemudaannya. Akan tiba gilirannya untuk tua lalu mati. (2) Apakah kita bisa menjamin apa yang terjadi esok hari ? Apakah esok hari kita masih bisa bangun pagi ? Apakah besok pagi kita bisa pergi ke kantor atau bekerja ? (3) Apakah kita bisa menetapkan panjangnya usia kita ? Di umur berapa kita akan mati ?   (4) Apakah kita bisa memastikan bahwa esok hari perniagaan kita akan memperoleh keuntungan  dengan jumlah keuntungan tertentu ?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sekiranya menyadarkan kepada kita bahwa kita memang bukan apa-apa.  Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainya yang lebih menegaskan bahwa kita memang bukan apa-apa. Namun demikian, untuk menuju keyakinan bahwa kita bukan apa-apa seringkali kita salah melangkah.  Seharusnya untuk mengetahui, memahami dan menyakini bahwa kita memang bukan apa-apa didahului dengan kita berbuat apa-apa.  Mari kita berupaya sekuat tenaga untuk berbuat apa-apa dan minta bimbingan kepada Allah agar sampai pada satu pemahaman bahwa kita memang bukan apa-apa.  Seringkali yang terjadi justru sebaliknya. Kita menyakini bahwa kita bukan apa-apa  oleh karena itu kita tidak perlu berbuat apa-apa.  Kita merasa tidak perlu berbuat apa-apa karena kita yakin kalau toh kita berbuat apa-apa, akhirnya Allah juga yang menentukan apa-apanya buat kita.  Pemahaman fatailistik seperti ini terjadi di lingkungan sekitar kita.

Di sisi lain, ketika kita berbuat apa-apa lalu menyaksikan hasilnya, tiba-tiba kita mengklaim bahwa kita adalah apa-apa dan berhak atas apa-apa itu.

Mari kita bermohon kepada Allah agar kita dibimbng agar kita mau dan mampu berbuat apa-apa lalu menyadari bahwa kita memang bukan apa-apa.

About The Author

Nurfi Majidi

Leave a Reply