Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Inilah salah satu sikap yang menyebabkan kita tidak bisa menjadi orang yang berlimpah rizkinya. Karena dalam urusan kewenangan membagi rizki, kita ternyata orang yang paling suka memprotes kebijakan Allah SWT. Padahal urusan bag...
Hidup Itu Sederhana
Hidup Itu Sederhana
Hidup itu sederhana. Sesederhana air mengalir., yang mengikuti gaya gravitasi bumi, yang mengikuti suara dan alualam irama alam semesta. Air tidak pernah meminta persyaratan yang rumit untuk mengalir. Air hanya meminta satu syara...

Syiar dengan Hati yang Santun

Hati yang santun adalah hati yang tahu diri. Hati yang memahami dan menyadari betapa kecil dirinya di hadapan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Sikap hati yang santun tercermin di dalam pergaulan sehari-hari dengan sesama manusia.  Hati yang santun tidak pernah meremehkan manusia yang lain.  Kesantunannya yang ikhlas disukai oleh hati manusia yang lain. Kehadirannya menyejukkan dan menentramkan.

Dan sebaliknya adalah hati yang tidak santun yaitu hati yang merasa sok tahu, sok takabur, sok juara, sok paling berjasa, sok paling alim, sok paling disayang Tuhan, sok paling pandai, sok paling paling top, sok paling tahu, sok merasa selamat dari siksa neraka, sok paling berhak masuk sorga, sok bangga diri, sok merasa aman dan nyaman, sok kuasa, sok merasa bisa dan  banyak lagi perilaku hati yang tidak santun. Hati yang tidak santun tidak merasa bahwa dibalik semua kesuksesannya ada tangan kuat yang menghendakinya. Hati yang seperti ini hanya akan terombang-ambing oleh kenyataan di luar dirinya. JIka apa yang diinginkan berhasil, hobinya ngaku-ngaku bahwa kalau bukan karena dia, keberhasilan itu tidak ada. Tapi kalau apa yang diinginkannya tidak berhasil, dia merasa hari sudah kiamat, sedih tidak ketulungan, stress. Dia gusar jika temannya yang berhasil, dia minder jika yang lain lebih berhasil, dia merasa tidak ada gunanya, dia merasa jalan hidup terasa terjal, dia merasa hari depan begitu sulit dan gelap.

Kawan, mari  kita bawa seluruh keberhasilan hanya karena Kehendak dan Kekuasaan Allah SWT. Tidak pantas kita mengaku-ngaku atas keberhasilan yang kita capai. Jangan kita menjadi orang yang tidak tahu diri, tidak tahu diuntung.  Harusnya kita malu, jika datang pujian, lalu merasa besar kepala dan merasa jagoan.  Rasanya tak cukup kita hanya sekali minta maaf. Kita harus minta maaf terus menerus karena kesadaran atas Kebesaran dan Kekuasaan Allah SWT  di setiap kejadian itu sering jatuh bangun. Kelakuan suka mengaku-ngaku itu seolah sudah melekat di dalam perilaku dasar kita.  Tidak ada sedikitpun kita berhak mengklaim atas semua keberhasilan kita. Dan Allah pun sudah menyatakan bahwa yang akan dinilai sebagai bekal di akhirat nanti adalah bukan keberhasilan ini, tapi sikap kita di dalam merespon setiap kejadian yang Engkau kehendaki, yaitu sikap ketaqwaan.

Demikian juga saat kegagalan ini datang pada kita. Kita  memohon kepada Allah SWT , agar kita  tidak limbung dan merasa putus asa.   Hati kita ini lemah untuk menerima kegagalan dan mudah sekali khawatir saat  menanti ketidakpastian  sesuatu yang belum terjadi. Semoga di saat menerima kegagalan dan musibah, hati kita tetap santun dan berkhusnudzon kepada Allah SWT.  Apapun yang terjadi, hati yang santun akan memilih respon-respon ketaqwaan.

Umat saat ini sudah begitu silau dengan harta dan kekuasaan, sehingga hati menjadi tidak santun lagi. Yang kaya dan berkuasa sombong dan angkuh, yang miskin dan tidak berkuasa merasa putus asa dan membabi buta untuk mendapatkan harta dan kekuasaan. Umat ini perlu bimbingan agar hatinya menjadi santun, bukan dipanas-panasi dengan kebencian dan bukan dihasut untuk merusak. Jangan kita ajari umat ini untuk menjadi pengadil yang suka memvonis di atas kebenarannya sendiri,  menyalahkan pihak lain dan merasa yang paling berhak menghuni  kavling di sorga.

Hati yang santun akan menjadi sarana syiar yang efektif, dengan catatan kita harus memulai dari diri kita sendiri.  Menebarkan syiar dengan hati yang santun tidak harus mengumbar dengan kata, cukup dengan contoh dan tindakan yang nyata. (nm)

About The Author

Nurfi Majidi

Leave a Reply