“ Kalau kamu pingin beli rumah seharga Rp. 100 juta, terus setiap bulan bisa menabung Rp. 10 juta setiap bulan, kapan kamu bisa beli rumah tersebut ? “ tanya ustadz Yusuf mansur dalam suatu kesempatan tausyiah.
Serempak jamaahnya menjawab “ 10 bulan lagi pak Ustadz !!!”.
“Salah !! Gimana sih kalian menghitungnya ? Coba hitung lagi lebih teliti ..” Jawab sang ustadz. Jamaah pun bingung, saling berpandangan. Kayaknya semua sepakat kalau Rp. 100 juta dibagi Rp. 10 juta ketemua 10. Artinya selama 10 bulan menabung Rp. 10 juta maka ketemua Rp. 100 juta pada bulan ke 10. Keliru soalnya kalee …
“ Bagaimana ? Sudah ketemu jawabnya yang benar ? “ Tanya Ustadz lagi. Hadirin makin bengong. Nggak tahu jawabnya.
Pak Ustadz pun menyadari kebingungan jamaahnya.
“ Mari kita hitung dengan cermat. Setiap bulan kamu menabung Rp. 10 juta dan rencananya sampai bulan ke 10 terkumpul Rp. 100 juta. Tapi pada bulan kedua anak kau sakit dan harus dirawat di rumah sakit memerlukan biaya Rp. 3 juta. Bulan ke 7, mertuamu datang, mau pinjam uang Rp. 25 juta dan kamu tidak enak menolaknya”. Jadi bulan ke 10 baru terkumpul Rp. 72 juta. Perlu tambahan 3 bulan lagi. Nah 3 bulan berikutnya ternyata harga rumah sudah naik menjadi 140 juta. Jadi perlu nabung 4 bulan lagi. Begitu 4 bulan mengumpulkan uang Rp. 140 juta ternyata rumah sudah dibeli orang lain. Jadi rumah itu tidak terbeli. ….
Begitulah perbandingan matematika di kelas dengan matematika kehidupan. Matematika kelas hanya bisa memotret kondisi satu waktu kejadian. Pada detik itu dan di atas kertas. Tapi kehidupan punya formula sendiri. Dia tidak tunduk kepada rumus matematika di kelas. Sebenarnya ada satu hukum dasar para dosen yang mengajar matematika ekonomi ketika akan memproyeksikan suatu kondisi di masa yang akan datang dengan rumus matematika di kelas, yaitu dengan menambah kata ceteris paribus atau dengan syarat bahwa kondisi lain tidak berubah atau tetap. Padahal kehidupan sendiri tidak lah tetap. Yang tetap dalam kehidupan adalah perubahan itu sendiri.
Yang bisa membuat rumus matematika kehidupan adalah yang membuat kehidupan itu sendiri., Allah SWT Yang Maha Kuasa. Yang Maha Menggenggaam kehidupan manusia bahkan kehidupan sebelum manusia lahir dan sesudah manusia mati.
Manusia sering kali dibikin pusing oleh formula matematikanya di kelas ketika dia menghadapi kenyataan kehidupan. Pada kenyataannya di alam nyata tidak ada ceteris paribus, semua berubah. Bahkan sel di dalam tubuh kita pun setiap harinya berubah. Ada sel yang mati dan ada sel baru. Semua bergerak menjalani takdirnya sendiri-sendiri. Namun takdir kita tidak berada dalam ruang kosong yang berjalan sendiri. Maha Suci Allah yang dengan kesempurnaaNYA telah merangkai takdir-takdir makhlukNYA menjadi saling terkait, saling membutuhkan namun tetap dalam bingkai ke-Maha Adil-anNYA.


