Suatu saat perusahaan anda menaikkan gaji karyawannya. Gaji anda dari Rp. 10 juta naik menjadi 12 juta. Lalu gaji teman anda Rp. 10 juta naik menjadi 12,5 juta. Kira-kira angka berapa yang selalu anda pikirkan ? Rp. 10 juta, Rp. 12 juta atau kenaikan gaji kita sebesar Rp. 2 juta ?
Boleh saya menebaknya. Kalau salah ya mohon maaf, berarti tebakan saya salah. Bukan bermaksud menuduh, tapi ingin menyakinkan saja bahwa tebakan saya ini tidak meleset he he he …. Yang menjadi fokus pikiran kita adalah angka Rp. 500 ribu. Lho ? Darimana angka itu ? Angka itu adalah selisih antara gaji baru anda dengan gaji baru teman anda. Tak soal berapa pun kenaikan gaji anda, yang kita pikirkan adalah bukan nilai absolut kenaikan gaji kita, tapi nilai relatif gaji baru kita dibanding teman yang lain. Hal ini juga sudah diteliti oleh para ahli di luar sana.
Kalau hal ini terjadi juga pada diri kita, rasanya kita perlu merenung lebih dalam. Kita memang sejak dalam kandungan sudah diajarin untuk hidup di alam perbandingan relatif. Dari kecil hingga besar saat ini pun, hampir semua prestasi kehidupan selalu dan pasti ditentukan dengan perbandingan relatif. Anak kita yang juara kelas pasti, disebut juara karena kedudukan prestasinya paling tinggi relatif dibanding teman-temannya dalam satu kelas. Belum tentu dia juara jika dibandingkan dengan kelas lain atau sekolahan lain.
Hidup di alam relatif ini kalau tidak disikapi dengan baik hanya berujung pada kehidupan yang capek. Kita akan jauh dari rasa syukur karena kita tidak pernah [eduli dengan apa yang berhasil kita miliki tapi kita lebih fokus kepada apa yang dimiliki oleh orang lain. Kita tidak peduli dengan apa yang kita peroleh tapi kita sangat peduli dengan yang orang lain peroleh.
Hidup di alam relatif juga merupakan lahan subur munculnya perasaan iri dengki. Orang bilang ‘senang lihat orang susah” dan “susah melihat orang senang”.
Nabi kita mengajarkan bagaimana caranya menggunakan falsafah perbandingan untuk kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Kalau urusan dunia kita harusnya melihat yang lebih bawah kalau urusan akhirat kita dianjurkan untuk melihat yang lebih atas. Urusan harta kekayaan, misalnya, mari kita lihat saudara-saudara kita yang tidak se kaya kita. Di situlah akan muncul rasa syukur yang mendalam. Tapi untuk urusan akhirat, kita dianjurkan untuk melihat ke atas. Misalnya sedekah. Lihatlah teman yang rajin bersedekah dan banyak. Di situ akan mendorong kita untuk bersedekah lebih banyak lagi.
Saat ini memang anjuran Nabi ini malah berlaku sebaliknya. Untuk urusan duniawi kita lihat ke atas tapi untuk urusan akhirat kita malah lihat ke bawah. Berabe jadinya.
Soal hidup dalam perbandingan relatif, juga diajarkan oleh Nabi kita dalam urusan waktu. Beliau mengajarkan bahwa siapa yang hari ini lebih buruk dari kemaren,orang itu celaka. Siapa yang hari ini sama dengan kemaren. orang itu rudi. Dan orang yang beruntung adalah yang hari ini lebih baik dari kemaren dan hari esok lebih baik dari hari ini. Jadi yang dibandingkan bukan orang satu dengan yang lain, tapi kita membandingkan diri kita sendiri. Dengan perbandingan ini tentu tidak akan memunculkan rasa dengki atau iri karena yang dibandingkan yang diri kita sendiri.
Apa saja saat ini, selalu kita bandingkan. Jika kita memiliki sesuatu yang lebih dibanding dengan yang lain, kita merasa bahagia. Dan sebaliknya kita kita memiliki sesuatu yang kurang dibanding yang lain kita kecewa dan minder. Dari urusan fisik, rumah, kendaraan, anak, pangkat, gaji, dan sebagainya. Kebahagiaan yang dituimbulkan karena perbandingan relatif ini hanyalah kebahagaian semua. Karena bisa jadi saat ini kita memiliki sesuatu yang lebih dibaniding yang lain. Tapi bisa jadi esok hari berubah. Bisa karena yang kita miliki berkurang atau karena yang dimiliki orang lain bertambah. Jadi kehagiaan kita hanya mengikuti besar kecilnya apa yang kita punya. Capeh deehhhh.
Mari, kita belajar dan lebih menegaskan untuk mencari kebahagiaan yang lebih abadi, kebahagiaan yang tidak disebabkan oleh sesuatu yang berada di luar diri kita, tapi kita cari kebahagiaan yang bersumber dari dalam diri kita. Apapun dan berapa pun yang kita miliki, kita tetap bahagia. Amiiin. (nm)


