Hati akan mengalir jika kita bisa membersihkan selokan kehidupan dari sampah-sampah penyakit hati yang menyumbat hati yang mengalir. Hati yang santun, tunduk, damai dengan setiap kejadian selalu “merendah” sehingga hidup terasa mengalir dan begitu ringan. Nafsu serakah, nafsu iri, dengki adalah penyumbat utama aliran hati. Hidup menjadi terasa “naik”. Perjalanan naik memerlukan tenaga lebih, dan akhirnya kita merasa capek menjalani kehidupan.
Mari kita siapkan selokan-selokan kehidupan yang bersih tanpa gumpalan-gumpalan sampah yang menyumbat aliran hati. Kita siapkan parit kehidupan yang mengarah kepada kehidupan yang lebih membahagiakan. Hati yang mengalir tidak akan membiarkan arah alirannya menuju comberan. Allah berfirman di dalam surat asysyam yang menyatakan bahwa Allah mengilhamkan kefujuran/kefasikan dan ketaqwaan . Maka berbahagialah orang-orang yang membersihkan jiwanya karena Allah akan mengilhamkan ketaqwaan di hati yang bersih dan suci. Hati yang mengalir akan mendapat bimbingan ilham ketaqwaan langsung dari Allah SWT. Dan celakalah orang-orang yang mengotori jiwanya karena hati yang kotor hanya akan dialiri oleh ilham kekufuran.
Hati yang sudah kita bersihkan dan kita sucikan dari gumpalan-gunpalan penyumbat aliran kehidupan, akan langsung dibimbing oleh Allah SWT dengan memberikan ilham ketaqwaan. Jadi tidak mungkin hati yang sudah suci dan bersih dari sumbatan-sumbatan kehidu[an mengalir menuju comberan. Hati yang mengalir menuju comberan adalah hati yang dipenuhi dengan nafsu kotor untuk tujuan-tujuan jangka pendek mendapatkan kenikmatan duniawi.
Permasalahannya adalah, kehidupan saat ini menarik begitu kuat nafsu untuk menjadi panglima. Akal yang sebenarnya bersifat netral terbawa nafsu untuk berpikir dan menjalani kehidupan. Hati menjadi layu dan tersingkirkan. Upaya-upaya ikhtiar telah dibimbing oleh nafsu serakah. Bahkan sang hati pun ikut ikutan sang nafsu dalam bersikap. Akhirnya hidup yang mengalir ditafsirkan sebagai hidup yang menyerahkankan pada nafsu baik dengan nafsu malas maupun nafsu mendapatkan kenikmatan sesaat. Hidup mengalir yang dilandasi nafsu malas, hanyalah sebagai pelarian untuk menghindari kerja keras dan hanya bermalas-malasan menunggu hujan emas. Sebaliknya hidup mengalir yang dibimbing oleh nafsu kenikmatan sesaat akan dimaknai sebagai hidup yang menyerahkan aliran kehidupan saja tanpa reserve, ke comberan sekalipun.
Agar hati mengalir lebih deras dan terasa energy yang digunakan lebih ringan, maka tujuan yang akan dicapai oleh hati yang mengalir kita letakkan posisi lebih rendah dari posisi hati kita saat ini. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah, semakin rendah tempat yang dituju, semakin ringan energy untuk mengalirkan dan semakin cepat alirannya. Energi gravitasi bumi yang disediakan secara gratis oleh Allah SWT harus dimanfaatkan dengan optimal bagi kita yang menginginkan agar hati mengalir lebih deras dengan usaha yang lebih ringan. Tugas kita bukan menyediakan energy gravitasi bumi tapi meletakkan hati yang lebih rendah dari posisi saat ini. Semakin rendah kita letakkan, semakin ringan kita mengalirkan hati dan tentu dengan aliran yang lebih deras lagi. Rendah hati, adalah kata kunci membuat aliran hati lebih deras. –00–


