Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Inilah salah satu sikap yang menyebabkan kita tidak bisa menjadi orang yang berlimpah rizkinya. Karena dalam urusan kewenangan membagi rizki, kita ternyata orang yang paling suka memprotes kebijakan Allah SWT. Padahal urusan bag...
Hidup Itu Sederhana
Hidup Itu Sederhana
Hidup itu sederhana. Sesederhana air mengalir., yang mengikuti gaya gravitasi bumi, yang mengikuti suara dan alualam irama alam semesta. Air tidak pernah meminta persyaratan yang rumit untuk mengalir. Air hanya meminta satu syara...

Sikap Hidup Yang Mengalir

Pergulatan pemikiran kaum jabariyah vs Qodariyah tidak hanya berlangsung pada masa awal islam. Sampai saat ini pun “turunan” dari pemikiran mengenai takdir, peran Tuhan dan peran manusia  pada setiap kejadian masih terus mewarnai dinamika kehidupan manusia.  Diskusi-diskusi tiada henti mengenai seberapa besar peran Tuhan dan manusia dalam menentukan takdir seseorang, bahkan diskusi lainnya tentang apakah takdir itu bisa dirubah atau tidak. Masing-masing pendapat menafsirkan ayat-ayat suci dalam Alqur’an, sunnah dan hadist nabi, pendapat para ulama serta penggunakan logika akal.

Hidup yang mengalir, menjadi salah satu falsafah dalam menjalani kehidupan yang banyak dianut oleh masyarakat.  Mereka menemukan kebahagiaan dengan memaknai dan menjalani kehidupan dengan mengalir saja.  Apapun yang terjadi diterima saja tanpa reserve. Pendapat tentang hidup yang mengalir mendapat  tentangan yang kuat dari para penganut  paham bahwa hidup tidak bisa dijalani dengan cara mengalir saja.  Bagi mereka, hidup yang mengalir adalah pelarian  golongan yang kalah dalam kompetisi kehidupan bahkan tempatnya para pemalas.  Hidup yang mengalir diidentikan dengan hidup yang pasrah tanpa upaya apapun.  Mereka mencontohkan, kalau air kehidupan yang diikuti itu adalah air kotor, maka jatuhnya pasti akan bermuara di comberan.  Betapa menjijikkan bagi para penganut hidup yang mengalir jika membiarkan dirinya masuk ke dalam comberan.  Mengikuti arus air yang mengalir juga diceritakan akan banyak tersangkut pada ranting-ranting pohon yang menjulur di sepanjang sungai kehidupan.

Sebaliknya, para penganut hidup yang mengalir melihat bagaimana capeknya kehidupan yang dijalani oleh mereka yang memenuhi hidup dengan ambisi, impian dan segala hiruk pikuk keinginan. Capek.  Terombang-ambing di antara kedua paham tersebut, penulis mencoba membaca lebih dalam lagi, dan sampai pada satu falsafah bahwa hidup yang mengalir akan memberikan dampak yang lebih baik jika dimaknai sebagai hati yang mengalir.  Allah memberikan karunia akal, nafsu dan hati dalam menjalani kehidupan di dunia.  Bagi yang tidak setuju, hidup yang mengalir  dimaknai sebagai hidup tanpa cita-cita dan harapan, hidup tanpa usaha dan keringat. Yang pada akhirnya aliran ini akan membawa kehidupan yang jalan di tempat, tidak ada kemajuan dan perbaikan kualitas kehidupan.  Ini lah yang sebenarnya menyebabkan dua aliran ini berbeda pendapat.

Pemahaman hidup mengalir, menurut penulis, sebenarnya lebih ke spesifik : hati yang mengalir.  Hati yang mengalir adalah hati yang damai, hati yang ikhlas, hati yang menerima, hati yang tidak neko-neko.  Kebahagian kehidupan dicapai ketika hati ini damai, ikhlas dan menerima setiap kejadian.  Jadi yang mengalir bukan aktivitas kehidupannya, tapi hati yang mengalir yang menjadi bantalan dari setiap upaya manusia menuju perbaikan kualitas kehidupan.  Jadi , akal yang berpikir keras dan cerdas dalam berikhtiar, apapun hasilnya akan “landing” dengan empuk di atas bantalan hati yang mengalir.  Tidak ada kekecewaan di sana, tidak ada keluhan bahkan cacian dalam setiap sikap menghadapi kejadian apapun.  Hati yang mengalir menjadi panglima dalam mensikapi setiap kejadian.  Kecewa, marah, stress, adalah sikap hidup dimana nafsu menjadi panglima.  Ada keinginan nafsu yang tidak tercapai. Nafsu mendapatkan materi, nafsu dipuji, nafsu dihargai. —-

About The Author

Nurfi Majidi

Leave a Reply