Ternyata untuk bahagia tidak memerlukan alasan. Aku nggak tahu kenapa dari bangun tidur tadi pagi sampai siang ini, aku merasa bahagia. Padahal hari ini ya sama dengan hari-hari kemaren. Bangun jam 4 pagi, mandi, sholat fajar, pergi ke mushola untuk sholat subuh, bangunin anak untuk persiapan berangkat sekolah. Dan seperti biasa jam 5.30 bersama anak-anak sudah keluar rumah untuk berangkat ke kantor sambil ngedrop anak ke sekolah.
Anak-anak yang biasanya agak susah dibangunin, langsung bangun dan bergegas ke kamar mandi. Bahkan anakku yang paling bontot pun ikut-ikutan sibuk bangun pagi Makan pagi yang merupakan acara paling susah bagi anak-anakku, pagi ini mereka begitu lahap. Mungkin karena bukan makan nasi, tapi makan donat madu yang aku beli semalem.
Kondisi jalan sudah rame, padat merayap dan tidak begitu ramah untuk pemakai jalan. Suara klakson bersahut-sahutan. Bahkan ada yang ngomel dan marah-marah. Angkot yang berhenti sembarang tempat, sepeda motor yang saling salib dari kiri dan kanan mobil, riuh tumpah di jalanan. Banyak alasan untuk marah dan uring-uringan. Tapi kenapa hari ini aku enjoy saja. Yang mau nyalib, yang mau nyrobot antrian, yang tiba-tiba motong jalan mau nyeberang aku persilahkan dengan ikhlas.
Begitu juga suasana di kantor. Pending pekerjaan yang menumpuk, dimarahin atasan, diomelin nasabah, beda pendapat dengan rekan kerja, semua aku lalui dengan riang gembira. Alhamdulillah, sepanjang hari ini aku bahagia tanpa tahu alasannya kenapa. Dan semestinya memang begitu.
Seringkali kita menuntut syarat yang berat untuk kebahagiaan kita sendiri. Dan lebih celaka lagi, persyaratan itu baru bisa kita penuhi beberapa bulan bahkan beberapa tahun yang akan datang. Bahagia rasanya kalau aku punya rumah yang luas. Anak-anak bebas bermain, leluasa memarkir mobil, bisa tanam bunga yang warna warni dsb. Dan untuk itu semua sepertinya aku harus menunggu lama, bisa 5 sampai 10 tahun lagi. Jadi untuk bahagia aku harus menunggu sampai puluhan tahun. Aku bahagia kalau anakku bisa kuliah ke luar negeri. Padahal anakku baru kelas 2 SD.
Jadi mari kita nikmati kebahagian setiap hari, dari setiap kejadian tanpa perlu menuntut syarat dan alasan. Ketika hati bahagia ternyata tahi kucing pun rasa coklat, kata Gombloh.
–00–


