Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Suka Suka Allah bagi Rizki, Ko Lu Yang sewot
Inilah salah satu sikap yang menyebabkan kita tidak bisa menjadi orang yang berlimpah rizkinya. Karena dalam urusan kewenangan membagi rizki, kita ternyata orang yang paling suka memprotes kebijakan Allah SWT. Padahal urusan bag...
Hidup Itu Sederhana
Hidup Itu Sederhana
Hidup itu sederhana. Sesederhana air mengalir., yang mengikuti gaya gravitasi bumi, yang mengikuti suara dan alualam irama alam semesta. Air tidak pernah meminta persyaratan yang rumit untuk mengalir. Air hanya meminta satu syara...

Panggung Kehidupan

Ibarat menjalankan sebuah adegan film, maka cara terbaik para artis dan aktor nya adalah sebagus mungkin memerankan peran yg diberikan oleh sutradara. Peran apapun akan dilakokni dg penuh penghayatan. Mau berperan jadi orang kaya maupun orang miskin, seorang artis profesional akan menjalankan peran terbaiknya. Tujuannya hanya satu agar sutradara puas dengan aktingnya sehingga sering mendapatkan job main dan otomatis popularitasnya naik dan pendapatannya pun naik pula. Dia tdk memprotes peran apapun yg diberikan oleh sutradara. Bahkan dia mampu memainkan peran-peran antagonis sekalipun. Saat dia berperan sebagai orang miskin, sama sekali dia tidak iri dengan artis lain yg diberikan peran sbg orang kaya. Intinya dia sangat menghayati perannya.

Begitu juga dengan panggung kehidupan. Sejatinya kita juga menjadi hamba Allah yang total dan profesional. Fokusnya hanya satu yaitu bagaimana membuat Sang Maha Sutradara puas dengan peran yang kita jalani. Karena hanya dengan membuat puas Sang Maha Sutradara hidupnya akan bahagia. Untuk urusan rezeki dia tidak khawatir karena dia sangat tahu bahwa Sang Maha Sutradara juga Maha Kuasa dan Maha Kaya. Untuk urusan sakit dia yakin bahwa Sang Maha Sutradara itu Maha Menyembuhkan. Untuk semua urusannya diserahkan sepenuhnya kepada Sang Maha Sutradara karena dia yakin sang Maha Sutradara itu Maha Segalanya.

Selama ini ada rapor merah tentang peran kita yang sering kita lakukan sebagai aktor kehidupan. Pertama, kita tidak menerima peran yang diberikan oleh Sang Maha Sutradara. Kita mengeluh sepanjang hari atas peran-peran yang kita lakukan. Bahkan sedikit keluhan saja mampu menutupi nikmat berlimpah yang kita terima. Misalnya, anak rewel saja bikin kita uring-uringan dan melupakan nikmat bahwa kita dikaruniai anak. Banyak keluarga yang tidak diberikan anak. Kita juga lupa nikmat bahwa anak lahir dalam kondisi normal dan organ yang lengkap. Karena banyak anak yang dilahirkan tidak sempurna. Dan banyak lagi aktivitas mengeluh terhadap peran-peran yang diberikan Allah kepada kita yang mengubur begitu banyak nikmat yang kita terima.

Kedua, kita tidak menerima Sang Maha Sutradara memberikan suatu peran kepada orang orang lain alias kita iri dan dengki dengan nikmat orang lain. Kita ingin nikmat orang lain itu hilang dan berpindah ke kita. Saat kita diberikan peran sebagai orang miskin, kita ngiri kepada orang lain yang diberikan peran kaya. Saat kita diberikan peran tidak naik jabatan, kita iri kepada temen kita yang diberikan peran naik jabatan. Saat kita diberikan peran sebagai pemilik mobil butut, kita iri dengan orang lain yang diberikan peran sebagai pemilik mobil bagus. Kita seneng lihat orang lain menderita. Itulah tanda-tanda bahwa kita tidak menerima peran yang diberikan oleh Sang Maha Sutradara.

Allah memberikan arahan bahwa untuk urusan dunia kita harusnya melihat yang di bawah kita dan untuk urusan akhirat kita harus melihat yang di atas kita. Tapi kita malah melakukan sebaliknya. Begitulah tingkat profesionalisme kita sebagai aktor kehidupan. Dengan kualitas peran kita seperti itu, pantaslah kalau hidup kita jadi empot-empotan karena kita tidak bisa menjadi aktor kehidupan dengan baik. Bukannya menjalani peran dengan total dan profesional, kita malah sibuk mengeluh saat menerima dan menjalankan peran plus kita tidak menerima Allah memberikan peran kepada orang lain dengan iri dan dengki. Jadilah kita menggurui dan mengatur bahkan mendikte Sang Maha Sutradara untuk mengikuti kemauan kita. Memang kita ini siapa ?

About The Author

Nurfi Majidi

Leave a Reply