Perjalanan ke dalam hati sering kali tidak bisa terucapkan. Hiruk pikuk di luar sana sering kali hanya bisa dinikmati dengan bahasa hati yang diam. Bahasa yang hanya bisa dirasakan. Kosa kata dan pengalaman hati memang sangat terbatas aku miliki. Jadilah hati ini menikmati kehidupan dengan cara diam. Karena tidak tahu kata dan susunan kalimat mana yang bisa mewakili bahasa hati.
Para Pujangga dan ahli bijak saat menuturkan untaian kata, terasa sejuk dan nyambung di hati. Betapa pandainya mereka mengungkap rasa di hati dengan pilihan-pilihan kata dan susunan kalimat yang menyentuh. Di dalam tulisannya ada kehidupan. Kehidupan yang sunyi namun penuh makna. Aku pun ingin hidup di dalamnya.
Hati ini tak terduga dalamnya. Tak terukur lebar dan luasnya. Rumah yang mewah dan luas bisa menjadi sempit di mata sang hati yang rakus. Sebaliknya rumah yang kecil dan sederhana bisa terasa luas jika dihuni oleh sang hati yang bersih dan dipenuhi rasa syukur. Luas dan sempitnya dunia ini hanya tergantung dari luas dan sempitnya hati. Waktu yang panjang pun bisa jadi pendek di mata sang hati khususnya bila sang hati sedang bercengkerama dengan Dzat Yang Membolak-balikkan Hati. Pun sebaliknya waktu yang pendek bisa menjadi panjang saat hati ini dipenuhi dengan
Hatiku bisa memproduksi kehidupan dalam kata ketika dia sedang galau dan gundah gulana. Ada perasaan ingin lari dari kehidupan nyata dan menyendiri. Hatiku juga bisa menginspirasi kehidupan dalam kata ketika dia bersih dari penyakit. Marah, dendam, iri dengki adalah sebagian pembunuh hati. Takut dan cemas dengan kehidupan dunia juga menyebabkan hati bisa sekarat dan mati.
Aku tidak ingin hanya diam dan ngomong sendiri saat bercengkerama dengan hati. Aku ingin rasa bahagia di dalam hati ini bisa terungkap dalam pilihan kata dan susunan kalimat. Dengan membaca bisa mengasah kemampuan hati mengekspresikan rasa. Sholat malam dan bermunajat kepada Sang Khaliq juga bisa membersihkan dan mengasah hati untuk mengungkap rasa dalam hati.


