Hati yang sudah mengalir, mestinya sudah bisa membuka hijab. Sebuah dinding tebal nan gelap yang tersusun oleh dosa-dosa dan sikap-sikap tidak menerima kehendak Tuhan. Sikap itu bisa berupa sangak buruk, iri dengki, sombong dan banyak lagi sikap yang menyebabkan hati tidak bisa lagi mengalir. Hati yang dengan santun menikmati untaian takdir Illahi dengan sikap terbaiknya.
Hijab itu bukan benda fisik yang mudah dirubuhkan dengan kekuatan tangan. Hijab itu berupa bangunan maya yang menutupi kesucian ruh manusia dengan jasad badaniyah manusia. Tiupan ruh yang ada di dalam diri manusia akan terus memancarkan nilai-nilai Illahi yang suci. Hijab yang tebal dan gelap telah menghalangi sinar suci itu menghiasi badan fisik, pikiran, kata, sikap dan perilaku kita.



